31 Des 2012

Tuhan Ar-Rahman duduk atas Arasy

Tuhan Ar-Rahman duduk diatas Arasy
20:5 Tuhan Ar-Rahaman, duduk bersila di atas Arasy
Betul ke , Tuhan duduk bersila di atas Arasy di langit ???
Jawabpannya
Baba Ismail sepangjang
Tuan Guru Baba Li . Pattani
{3:7} هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
3:7 Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Surah 3 ayat 7 , menerangakan bahwa Allah iyalah Tuhan yang menurunkan kitab Al-Quran yang terbahgi kepada 2 bahgian :
  1. محكمات = muhkamat
  2. متشابهات = mutasyabihat
penjelasannya :
  1. Muhkamat , artinya iyalah yang terang maknanya, jelas maksunya, itulah dinamakan “أم الكتات” ibu kitab , yang banyak terjumpa didlam Quran yang wajib kita turut amalkan.
  2. Mutasyabihat , artinya iyalah yang tiada terang maksudnya, tiada jelas hakikatnya, umpamanya, “ يَدُ اللهُ فَوقَ أَيْدِيهِم” = “tangan Allah diatas tangan-tangan mareka” surah 48 ayat 10 , menurut pikiran yang waras, dan dari ayat muhkamat surah 42 ayat 11, nyata Allah itu mahasuci, dan maha tinggi, tiada yang menyerupai dengan dia saorang juwa pun, dan oleh sebab itu , tiadalah diterima oleh akal, bahwa Allah itu bertangan seperti manusia , oleh sebab ini pula ayat itu dinamakan “متشابهات” karena tiada terang, bagimanakan hakikatnya tangan Allah itu ? maka tiada mengtahui malainkan Allah.Dan orang-orang yang dalam pengantahuanya dapat pula mentakwilkannya , kata mareka bahwa arti “tangan Allah diatas tangan-tangan mareka” maksudnya iyalah “kekuasaan Allah diatas segala kekuasan mareka”Dalam bahasa melayu ada juga kedapatan yang seumpama dengan ini . seperti dikatakan “nagara ini terpegang didalam tangan raja ini” maka tiada diterima oleh akal , bahwa nagara yang sebagitu luas , dan libar dipegang oleh tangannya yang kecil itu. Oleh karena itu , maka arti perkataan ini, iyalah “nagara itu semuanya dibawah tadbirnya dan kuasanya”
Tetapi orang-orang tergelincir hatinya, mareka sengaja mengikuti ayat-ayat “متشابهات”. Kadang-kadang mareka takwilkan menurut kehandak hati mareka sendiri. 
Ada pun orang-orang yang beriman , maka mareka itu percaya bahwa semua itu ayat “محكمات” dan “متشابهات” itu datangnya daripada Allah, mana-mana yang muhkamat mareka turut, mana-mana yang mutasyabihat mareka serah hakikatnya kepada Allah atau kepada orang-orang yang ahli dalam pengantahuan .

Kalau ditanya , 
  • apakah sebabnya didalam Quran ada ayat yang mutasyabihat yang tidak diketahui tujuannya malainkan Allah dan orang-orang yang luas pengantahuan ?
  • Dan apakah sebabnya tiadak diturunkan ayat Quran itu sekaliannya muhkamat hingga diketahui oleh sekalian manusia ?
Orang-orang yang mampunyai ilmu menjawab :
  1. Bahwa dengan menurunkan ayat-ayat yang mutasyabihat itu dapatlah dicubai hati manusia didalam kepercayaan (iman) karena kalau diturunkan ayat itu semuanya “muhkamat” terang nyata, mudah dipaham oleh segenap manusia, maka tidaklah didalam kepercayaanya itu menunjukan tunduk dan serah kepada Allah.
  2. Bahwa dengan adanya ayat itu didalam Quran menyembabkan utak manusia sentiasa hidup “berpikir” untuk mendapat rahsia-rahsia dan tujuan-tujuan ayat-ayat itu .
  3. Bahwa Nabi diutuskan kepada manusia . manusia ada bermacam-macam, ada yang bijak dan pandai, pintar ilmunya, dan ada yang bodoh dan dengu, jahil dan bingung. Orang yang bijak dan pandai Berjaya didalam memahamkan ayat yang payah. Sedang orang yang bodoh dan dengu. Hanya menyerahkan pahaman itu kepada Allah, dan tidak diharuskan kepada takwil ayat-ayat yang payah itu 
liahat tafsir Al-Qruanul hakim bahasa melayu pangkal 3 oleh mustafa abdur rahman mahmud . 
Dimakaian lah cuntuhnya tafsir dari Ulama yang saya terima , karena didalam tafsirannya itu tidak lari dari ayat yang ia tafsirkannya itu .
Ada pun ada ulama-ulama yang menghukum  terhadap Ulama-ulama yang mentakwilkan ayat-ayat mutasyabihat itu adalah dari kaum Muktazilah yang sesat dan dihokum kafir oleh kaum Ulama-ulama yang seperti itu tidak ada alasan dalam Quran , bahwa kaum muktazilah yang menggunakan akal pikirannya itu adalah sesat dan kakari , bahkan dalam Quran mengatakan bahwa orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya itu Allah adakan seksa atas mareka yang tidak mau berpikir :
{10:100} وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
10:100 Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah adakan seksa atas mareka yang tidak mau berpikir . 
{7:179} وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
7:179 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Ada pun Ulama-ulama yang mengafirkan terhadap Ulama-ulama yang mentakwilkan ayat-ayat mutasyabihat itu adalah Ibnu Taimiyah.
Menurut Ibnu Taimiyah pahaman salafnya itu menerima dan memperlakukan ayat-ayat dan Hadis-hadis yang bertalian dengan sifat-sifat Tuhan sesuai dengan makna lafaznya yang lahir saja, dengan perngertian meniadakan bentuk dan meniadakan tasybih .
Ia merumuskan bagini :
إِجْرَاءُ آيَاتِ الصِّفاتِ وَأَحَادِيثِهَا عَلَى ظَاهِرِهَا مَعَ نَفِى الكَيْفِيَّةِ وَلاَالتَّشْبِيهِ عَنْهَا
المجموع الكبرى 1 هلامن 416
Artinya : “menerima dan memperlakukan ayat-ayat sifat dan hadis-hadis atas makna lafaznya yang lahir saja, dengan pengertian meniadakan kaifiat dan tasbih”
Dan Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Imam Malik (wafat 179 h) pada ketika ditanya tentang arti “استوى” dalam surah 20 ayat 5 ,
Terjemahnya “Tuhan yang rahman istiwa diatas arasy”
Beliau menjawab :
الإِسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ وَالكَيْفِيَّةُ مَجْهُولٌ وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّزَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
Artinya : “istiwa telah dikenal , kaifiatnya tidak diketahui, percaya dengannya wajib dan bertanya-tanya dalam sual itu bid’ah
Lihat kitab masalah agama oleh k.h. rirajudin Abbas . siri 6 muka 231.

Perkataan Imam Malik ini berlawan dengan ayat Quran yang saya yakini Tuhan yang wajib bercaya , karena dalam suruh bertanya kepada orang-orang yang tahu jika kita tidak tahu :
{21:7} وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
21:7 Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
Kalau bagi saya ingkar perkataan Imam Malik itu , karena beliau bukan Tuhan yang saya sembah , dan saya terima perkataan Tuhan yang saya sembah dan patuh kepada suruhan dan larangannya , yaitu Tuhan suruh kita bertanya kepada orang-orang yang tahu jika kita tidak tahu .
Pendek kata , saya ikut Ulama-ulama Tafsir yang tidak bercampur aduk dengan Ulama-ulama HadisUlama FiqihUlama Tauhid mana-mana pun .

******

kembali ke TOPIC.

0 ulasan: